Isi Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia mulai dari alat-alat rumah tangga, bahan sandang, pangan, obat-obatan tradisional, berbagai kerajinan, alat musik, artefak, dan berbagai jenis tumbuhan. Ada juga beberapa koleksi yang disatukan berdasarkan daerah, salah satunya area lontar. Area lontar masuk daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada bagian ini, pengunjung akan disuguhkan mengenai pemanfaatan daun lontar yang sudah kerap digunakan oleh masyarakat NTT untuk membuat aneka kerajinan, seperti alat musik Sasando dan wadah air. Lebih lanjut, ada koleksi yang disimpan di dalam kaca, ada juga yang dibiarkan terbuka sehingga pengunjung dapat melihat secara lebih leluasa. Pada bagian terbuka, ada pameran tenun, sedangkan di area kaca berupa area daun pandan.
SEJARAH BERDIRINYA MUNASAIN
Sejarah Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia terlahir dari gagasan mantan Kepala Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof. Dr. Sarwono Prawiroatmodjo. Setelah itu, pada 1962, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung Herbarium Bogoriense. Setelah selesai dibangun, gedung ini diberi nama Lembaga Biologi Nasional oleh ibu Siti Sastrapraja.
Lalu, dilakukan pengembangan terhadap bangunan tersebut sampai akhirnya terbentuklah museum ini. Proses pengembangan Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia bertahap dengan target lima tahun pembangunan. Pada akhirnya, Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia diresmikan oleh Menristek BJ Habibie pada 1982. Tujuan pendirian Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia adalah untuk melestarikan flora dan budaya Indonesia yang sangat beragam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar